JAKARTA – Perhimpunan Kebayaku menggelar peringatan Hari Kartini dengan sebuah tema besar yang penuh makna, “Prabhā Kartini”.
Acara yang berlangsung hangat dan elegan ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah refleksi mendalam terhadap warisan intelektual dan spiritual Raden Ajeng Kartini sebagai pelita bagi perempuan modern di Indonesia.
Tampak para perempuan anggota perhimpunan ini tampil anggun nan cantik mengenakan kebaya beragam corak dan warna khas Nusantara.
Ketua Perhimpunan Kebayaku, Nunun Daradjatun, dalam sambutannya menekankan bahwa sosok Kartini bukan hanya sejarah yang dikenang, tetapi sebuah “Prabhā” merupakan ungkapan tentang cahaya yang terus bersinar, lembut namun menguatkan.
Menurutnya, warisan Kartini yang paling berharga adalah kesadaran bagi perempuan untuk berpikir, bersuara, dan menjadi diri sendiri meski di tengah keterbatasan.
“Habis Gelap Terbitlah Terang bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cahaya yang terus hidup menerangi cara kita berpikir dan keberanian kita dalam memilih langkah sebagai perempuan hari ini. Melalui tema ‘Prabhā Kartini: Dari Warisan ke Masa Depan’, kami mengajak seluruh perempuan untuk tidak hanya merasakan terang itu, tetapi juga menjadi bagian dari cahaya tersebut,” ujar Nunun dalam keterangannya, Jumat (1/5/2026).
Lebih lanjut, istri Anggota Komisi III DPR RI serta Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI, Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Adang Daradjatun ini menggarisbawahi bahwa kekuatan pemikiran Kartini telah melampaui zaman dan terus beradaptasi.
Ia mencontohkan bagaimana perjuangan kesetaraan yang digaungkan Kartini telah membuahkan hasil nyata dalam sejarah bangsa, di mana Indonesia pernah dipimpin oleh sosok perempuan hebat, Megawati Soekarnoputri.
Dalam acara ini, penggunaan Kebaya menjadi fokus utama sebagai simbol akar identitas yang tak lekang oleh waktu.
“Kebaya bukan sekadar busana, melainkan simbol keanggunan dan kelembutan yang berdaya. Dalam setiap helainya, tersimpan pengingat bahwa perempuan Indonesia mampu menjunjung jati diri sekaligus melangkah maju ke masa depan dengan caranya sendiri,” ungkapnya.

Kemeriahan acara pada sore hari yang digelar di Rumah Batik Danar Hadi Melawai, Jakarta Selatan, juga menampilkan peragaan busana yang memukau. Setiap langkah di atas panggung merayakan cahaya yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Sumber : Rakyat Merdeka