MOSKWA – Rusia melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Kyiv dan menewaskan 4 orang, Minggu (24/5/2026) pagi.
Serangan itu disebut menggunakan rudal hipersonik Oreshnik yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Ini menjadi salah satu serangan terbesar dalam perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Dinamai berdasarkan kata dalam bahasa Rusia untuk pohon hazel, roket itu pertama kali ditembakkan ke sebuah pabrik di kota Dnipro, Ukraina pada 2024.
Dikutip dari AFP, Minggu, Rusia mengeklaim, Oreshnik adalah rudal jarak menengah yang berarti dapat mencapai target antara 3.000 dan 5.500 kilometer. Komandan Pasukan Roket Strategis Rusia, Sergei Karakayev mengatakan, Oreshnik dapat menghantam target di seluruh Eropa.
Presiden Belarusia Alexander Lukashenko, sekutu utama pemimpin Rusia Vladimir Putin, menyebutkan, Oreshnik telah ditempatkan di negaranya yang berbatasan dengan sayap timur NATO. Moskwa segera mengumumkan bahwa sistem rudal tersebut telah memulai tugas tempurnya.
Sementara, Ukraina menyebut rudal itu ditembakkan dari lapangan tembak Kapustin Yar, dekat kota Volgograd di Rusia selatan.
Pada 2024, Putin mengatakan bahwa Oreshnik memiliki puluhan hulu ledak berpemandu. Menurutnya, rudal itu tidak menyebabkan kehancuran massal karena tidak memiliki hulu ledak nuklir. Artinya, tidak ada kontaminasi nuklir setelah penggunaannya.
Namun, para ahli militer mengatakan Oreshnik berpotensi dilengkapi untuk membawa hulu ledak nuklir. Putin menegaskan, elemen-elemen penghancur rudal tersebut dapat mencapai panas yang mendekati suhu permukaan Matahari.
Sumber : Kompas