
Penulis : Yulius Suni
Duduk santai bersama sosok Johanes Atolan, kita akan disuguhkan riwayat panjang secara monolog berbagai topik. Karena monolog dan diceritakan berulang-ulang, kebanyakan orang yang lahir di atas 1980an menghindar untuk mendengar.
Tetapi kebiasaan ini bukan topik dari catatan ringan ini. Dari persepektif keluarga, apa hal menarik dari Bapak Anis Atolan, sapaan Johanes Atolan yang lahir 31 Desember 1939 dan meninggal hari ini 2 Januari 2026?
Diskusi saya terakhir dengan beliau di tempat kelahirannya Banain, Timor Tengah Utara dapat menjawab pertanyaan sederhana ini.
Kami berdiskusi panjang di atas pusara mendiang ayahnya saat acara doa arwah keluarga besar. Dimulai dari cerita tahun kelahirannya.
Sebenarnya kedua orangtuanya tidak mencatat tahun kelahirannya, apalagi tanggal dan bulan, karena keduanya buta huruf. Yang diingat cuma cerita peristiwa banjir bandang di Sungai Benanain, Kabupaten Malaka tahun 1939 beberapa bulan mendahului kelahirannya atau sebaliknya kelahirannya mendahului bencana air bah Malaka.
Sebagai orang yang berkecimpung di bidang kebencanaan, saya memeriksa data bencana di kabupaten Malaka, dan menemukan banjir bandang pernah terjadi di dataran rendah Malaka tahun 1939, 1968, dan 2000. Karena itu tahun kelahirannya dinyatakan valid. Sementara itu, tanggal dan bulan kelahirannya diberikan secara administratif oleh pemerintah.
Bercita-cita menjadi Pastor
Selanjutnya topik beralih ke masa sekolahnya. Ketika menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat, mereka menerima tamu Istimewa dari Paroki Santa Theresia Kefamenanu, P. Theodorus van den Tillaart, SVD yang kemudian menjadi Uskup Atambua 1957-1984.
Si Anis kecil sangat kagum dengan kedatangan pastor Tillaart sehingga dia merasa seperti bertemu dengan Tuhan secara langsung. Kunjungan pastor tersebut untuk mencari anak-anak yang layak secara akdemis untuk melanjutkan sekolah ke Seminari sebagai calon imam.
Hasil seleksi, Anis Atolan sebagai yang terbaik dari sekolah mereka. Kunjungan Pastor Tillaart selanjutnya menemui kedua orangtuanya untuk meminta restu agar Anis disekolahkan di Seminari. Permintaan pastor ditolak karena Anis menjadi tumpuan untuk mengurus sapi dan kambing setelah kelima kakak kandungnya sudah memiliki keluarga sendiri.
Saat menarasikan cerita ini, dengan sedikit kesal dia menunjuk kedua pusara ayah dan ibunya: “….dua bodok ini yang tidak setuju saya sekolah pastor”.
Guru sebagai Jalan Hidup
Bakat akademik Anis kecil pertama kali ditangkap oleh Pastor Tillaart, yang melihat ada kecerdasan dan ketekunan istimewa pada diri anak kampung itu. Atas sarannya, Anis disekolahkan ke Sekolah Guru B (SGB), sebuah keputusan yang disetujui penuh oleh kedua orang tuanya.
Prestasinya yang menonjol kemudian membuka jalan lebih jauh, ia mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru A (SGA) di Ndona, Ende, tempat ia menimba ilmu dari 1953 hingga 1959.
Sepulang dari Ende, ia langsung mengabdikan diri sebagai guru di SMPK Don Bosco Atambua.
Perjalanan pengabdiannya kemudian membawanya ke Weluli, di mana pada 1963–1965 ia dipercaya menjadi Kepala Sekolah SMP Kemakmuran Rakyat. Di tangan Johanes Atolan, sekolah itu tidak hanya dipimpin, tetapi juga diberi arah baru, termasuk perubahan nama menjadi SMPK Santo Yosef Weluli.
Dari Weluli, ia melanjutkan pengabdiannya sebagai staf pengajar di SMPK Xaverius Puteri Kefamenanu. Pada 1967, ia kembali dipanggil ke Atambua untuk mengajar di almamaternya, SMPK Don Bosco. Setahun kemudian, kepercayaan besar diberikan kepadanya: ia terpilih sebagai Kepala Sekolah SMPK Don Bosco, jabatan yang dengan setia diembannya hingga pensiun pada akhir 1999—menutup hampir seluruh hidupnya dalam dunia pendidikan.
Pelaku yang Tabu dengan Dunia Politik
Pada pertengahan 1999, ketika mengurus tunjangan pensiun di Kupang, Johanes Atolan bersama Nenek Rosa Abuk—alm. istrinya—menumpang tinggal di rumah kecil yang saya tempati sebagai mahasiswa. Saat itu, suasana Indonesia sedang bergejolak oleh gaung reformasi politik; diskusi, rapat, dan pertemuan organisasi kemahasiswaan hampir setiap hari berlangsung, bahkan sering kali di rumah kami. Ia melihat sendiri betapa aktifnya saya terlibat dalam berbagai pertemuan itu, mengikuti semangat zaman yang sedang berubah.
Beberapa hari kemudian, ia memanggil saya secara khusus. Dengan nada tenang, ia berkata, “Lius, saya ini pernah menjadi anggota DPR-GR Kabupaten Belu. Setelah selesai masa tugas, saya berjanji tidak ada lagi nama Suni di panggung politik. Di politik, dua tambah dua tidak selalu sama dengan empat.” Kalimat itu ia ucapkan tanpa penjelasan panjang, dan sampai hari ini kami tidak pernah mendengar secara utuh apa yang melatarbelakangi kemuakan atau kejenuhannya terhadap dunia politik yang sering kali begitu menggoda banyak orang.
Dari pengalaman itulah, barangkali, lahir sikap hidupnya yang memilih menjauh dari panggung politik dan kembali setia pada jalur pengabdian yang sunyi.
Sebagai informasi bahwa pada tahun 1960, Presiden Soekarno membubarkan DPR/DPRD hasil Pemilu 1955 dan diganti dengan DPR Gotong Royong (DPR-GR) yang anggotanya ditunjuk oleh pemerintah.
Satu Hidup, Banyak Anak Sekolah
Sebagai seorang guru, Johanes Atolan tidak pernah membatasi pengabdiannya hanya pada ruang kelas dan jam pelajaran.
Ia telah mendidik dan mengantar banyak anak sekolah hingga kelak sebagian dari mereka tumbuh menjadi figur penting di Kabupaten Belu. Namun yang paling khas dari dirinya bukan sekadar jumlah murid atau capaian jabatan para alumninya, melainkan prinsip hidup yang ia pegang teguh: ia tidak pernah ingin menjadi satu-satunya orang terdidik di dalam keluarganya.
Pendidikan, baginya, bukan alat untuk meninggikan diri, melainkan tangga bersama yang harus dinaiki ramai-ramai. Karena itu, ia menyekolahkan anak-anak dari saudara kandungnya, satu per satu, sesuai kemampuan dan minat mereka.
Ada yang kemudian menjadi guru, ada yang menekuni bidang teknik, ada yang memilih jalan sebagai polisi, dan ada pula yang ia arahkan mengikuti kursus keahlian—dari bangunan, mesin otomotif, hingga keterampilan praktis lainnya. Semua itu ia lakukan dengan keyakinan sederhana namun kuat: pendidikan adalah investasi paling manusiawi, yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi kelak akan mengubah hidup banyak orang dan menguatkan satu keluarga, bahkan satu komunitas, untuk waktu yang sangat panjang.
Johanes Atolan telah pergi, tetapi jejak pengabdiannya tetap tinggal—di ruang kelas, di keluarga-keluarga yang berubah nasibnya, dan di Belu yang pernah ia layani dengan setia.
Ia mungkin tak meninggalkan warisan harta atau gelar kebesaran, namun ia mewariskan sesuatu yang jauh lebih bernilai: keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan paling manusiawi untuk memuliakan hidup.
Melalui tangan dan keteladanannya, banyak anak menemukan arah, banyak keluarga memperoleh harapan, dan sebuah komunitas belajar berdiri lebih tegak.
Dalam kesunyian pengabdiannya, ia telah menuntaskan perannya sebagai guru sejati—mengajar dan membimbing tanpa pamrih, dan memberi tanpa menghitung kembali.
Selamat jalan, Ba’i Guru Johanes Atolan; terang yang engkau nyalakan akan terus hidup dalam langkah-langkah mereka yang pernah kau didik.