Melayat Keluarga Pendemo Tertembak Mati di Sulteng, Polisi Beri Trauma Healing

Jakarta – Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah (Sulteng) Kombes Didik Supranoto mengatakan pihaknya telah melayat ke rumah pendemo yang tewas tertembak saat unjuk rasa penolakan izin tambang PT Trio Kencana terjadi di Parigi Moutong, Erfaldi (21). Pihaknya juga mengantarkan jenazah korban ke tempat peristirahatan terakhir.
“Yang pertama, selesai kejadian kemarin, Kapolres, kemudian pejabat utama dari Polda, dan perwira lainnya telah berkunjung ke rumah duka, kemudian juga mengikuti proses pemakaman,” kata Didik kepada wartawan, Rabu (16/2/2022).

Demi menjaga situasi kondusif, Didik menuturkan, kepolisian juga telah mengadakan kegiatan bagi-bagi bantuan sosial kepada masyarakat yang terdampak aksi unjuk rasa. Didik menambahkan, pihaknya juga mendampingi keluarga korban dalam proses trauma healing.

“Kemudian hari ini Polres Parigi Moutong telah melakukan kegiatan bansos. Ini diberikan kepada masyarakat yang kemarin terkena dampak unjuk rasa yang menutup akses jalan,” tuturnya.

“Kemudian yang kedua juga melakukan trauma healing kepada keluarga korban. Ini dengan maksud supaya keluarga korban ini pulih kembali perasaannya, tidak ada stres, ya,” imbuh dia.
Sebelumnya, Erfaldi tertembak saat polisi membubarkan demo penolakan tambang. Warga Desa Tanda, Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng), tersebut tewas.

Polda Sulteng menegaskan pihaknya tengah mengusut kasus penembakan Erfaldi dan status perkara ini sudah ditingkatkan menjadi penyidikan. Kasus tersebut naik ke tahap penyidikan setelah ditemukan indikasi pelanggaran pidana.

“Kemudian dari kasus itu sudah dikeluarkan LP (laporan polisi). Karena perbuatan pidananya sudah ada, yaitu adanya orang yang meninggal,” ujar Didik kepada wartawan, Selasa (15/2).

“Tetapi untuk tersangka masih dalam proses penyidikan. Salah satunya adalah menunggu uji balistik,” sambungnya.

Polisi menjelaskan suasana saat demo penolakan izin tambang PT Trio Kencana terjadi di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng), yang mengakibatkan seorang demonstran tewas tertembak. Polisi mengatakan massa demo memblokade jalan Trans Sulawesi yang menghubungkan antara Sulawesi Utara (Sulut), Gorontalo, dan Sulteng, sehingga timbul kemacetan panjang.

“Jadi arus lalu lintas yang melintas dari Sulut, Gorontalo, maupun Sulteng terhambat. Jadi kemacetan hampir mencapai 10 km,” ujar Didik saat dihubungi, Senin (14/2).

Adapun massa mulai memblokade jalan sejak pukul 12.00 Wita pada Sabtu (12/2). Mereka menutup jalan dari dua arah hingga tengah malam.

Didik menjelaskan kondisi saat itu mulai memanas karena masyarakat yang terdampak kemacetan mulai marah. Pasalnya, mobil ambulans pun tidak boleh lewat saat itu.

“Mereka tetap menutup. Kalau kita biarkan, akan menjadi keributan di situ. Karena masyarakat yang mau melintas ini sudah marah juga, para sopir. Karena dia nggak peduli ada ambulans, ada apa, tidak boleh lewat,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.